Di Balik Markas Rahasia Saingan Terbesar Neuralink
1 month ago · Updated 1 month ago

Pada suatu sore yang hujan baru-baru ini, reporter senior PCMag Emily Forlini berjalan-jalan di kawasan industri Brooklyn dengan misi yang tidak biasa: menemukan sebuah startup implan otak yang tidak ingin ditemukan.
Synchron tidak mengungkapkan secara publik alamat markas besarnya. Perusahaan memberikan alamat yang ternyata tidak tepat. Forlini menghabiskan 15 menit berkeliaran melewati cerobong asap dan pintu baja misterius dengan 10 kunci dan sebanyak itu pegangan — sebelum akhirnya bertemu seorang karyawan Synchron yang memandunya ke kantor. Dalam perjalanan naik lift, karyawan tersebut mengakui bahwa salah arah itu disengaja, tanpa menjelaskan alasannya.
Di balik pintu kantor, seekor golden retriever bernama Murphy menyambut mereka. Ada dinding yang dipenuhi plakat paten berlapis emas dengan judul-judul seperti "kontrol menggunakan sinyal saraf" dan "merangsang jaringan." Setelah beberapa menit menunggu di sofa kulit di sebelah kotak kaca bercahaya hijau yang memajang model otak dengan Stentrode di atasnya, Forlini akhirnya duduk berhadapan dengan CEO Tom Oxley untuk percakapan yang kemudian mengubah cara pandangnya terhadap masa depan teknologi.
Synchron membuat Stentrode sebuah antarmuka otak-komputer (BCI) yang telah diimplan pada 10 orang sejak 2019. Itu tiga lebih banyak dari yang memiliki implan dari Neuralink milik Elon Musk. Sepotong jaring logam seukuran koin ini memungkinkan penggunanya mengendalikan komputer, ponsel, dan perangkat lain hanya dengan pikiran mereka. Bukan melalui tombol, bukan melalui sentuhan, bukan melalui suara murni melalui pikiran.
Alasan kerahasiaan alamat itu, seperti yang akhirnya dijelaskan Oxley, lebih gelap dari yang bisa dibayangkan: setiap bulan, perusahaan menerima email dari orang sakit yang yakin Synchron telah mengimplan perangkat di kepala mereka. Mereka menuntut agar perangkat itu dikeluarkan, kadang dengan nada agresif. Synchron tidak ingin mereka datang ke kantor secara langsung. Inilah yang terjadi ketika teknologi yang berada di antara keajaiban dan fiksi ilmiah distopia bertemu dengan kenyataan kesehatan mental yang kompleks.
"Kami berpikir Neuralink terlalu berlebihan dalam rekayasanya. Saya tidak meragukan bahwa ini akan berhasil." — Kurt Haggstrom, COO Synchron
Apa Itu Stentrode? Teknologi di Balik Implan Otak Tanpa Operasi Tengkorak
Untuk memahami mengapa Synchron layak mendapat perhatian sebagai pesaing serius Neuralink, kita perlu memahami apa yang membuat Stentrode berbeda secara fundamental dari pendekatan yang digunakan oleh kompetitornya.
Masalah dengan Implan Otak Konvensional
Implan otak tradisional, termasuk N1 dari Neuralink, memerlukan operasi yang melibatkan pengeboran tengkorak. Prosedur ini memungkinkan sensor ditempatkan langsung di permukaan atau di dalam jaringan otak, sehingga sinyal listrik yang ditangkap sangat kuat dan akurat. Namun, pengeboran tengkorak membawa risiko yang signifikan: infeksi, perdarahan, kerusakan jaringan otak, dan semua komplikasi yang terkait dengan neurosurgery mayor pada umumnya.
Hambatan ini bukan sekadar medis ia juga psikologis dan regulasi. Banyak pasien yang mungkin mendapat manfaat dari BCI enggan menjalani operasi otak. Regulator seperti FDA menetapkan standar keamanan yang sangat tinggi untuk prosedur yang melibatkan pengeboran tengkorak. Dan bahkan jika teknologinya sempurna, skala adopsi akan tetap sangat terbatas jika prosedur pemasangan memerlukan tim bedah saraf dan fasilitas operasi mayor.
Pendekatan "Dalam Vena" Synchron
Inilah inovasi kunci Stentrode: ia dimasukkan ke dalam vena di atas korteks motorik otak, sehingga dekat dengan otak tetapi tidak langsung berada di atasnya. Prosedurnya menyerupai pemasangan stent jantung bukan bedah otak mayor. Insisi yang diperlukan dangkal, pemulihan jauh lebih cepat, dan risiko keseluruhan lebih rendah dibandingkan prosedur pengeboran tengkorak.
Stentrode sendiri adalah jaring sensor dari logam yang dapat mengembang di dalam vena setelah dimasukkan. Begitu berada di posisinya, ia mendeteksi sinyal listrik dari aktivitas otak di dekatnya. Sebuah kabel menghubungkan Stentrode ke paket elektronik yang lebih kecil dari setumpuk kartu, yang ditanam oleh Synchron di dekat tulang selangka melalui insisi dangkal. Dari sana, sistem berkomunikasi secara nirkabel via Bluetooth dengan perangkat eksternal.
Tantangan teknis terbesar dari pendekatan ini adalah mencapai performa yang sama dengan N1, mengingat Stentrode lebih jauh dari sinyal listrik otak. Sinyal yang ditangkap lebih lemah dan mungkin lebih berisik. Namun COO Kurt Haggstrom menolak untuk melihat ini sebagai kelemahan fundamental: "Kami pikir Neuralink terlalu berlebihan dalam rekayasanya. Saya tidak meragukan bahwa ini akan berhasil."
![]()
Gambar 2: Diagram yang menunjukkan posisi Stentrode Synchron di dalam vena di atas otak, terhubung ke paket elektronik di dekat tulang selangka. Berbeda dengan Neuralink N1 yang memerlukan pengeboran tengkorak, Stentrode dimasukkan melalui prosedur yang menyerupai pemasangan stent kardiovaskular. (Kredit: Joseph Maldonado / PCMag)
Perbandingan Synchron vs. Neuralink
| Dimensi | Synchron Stentrode | Neuralink N1 |
| Metode Implan | Melalui vena (endovaskular) | Pengeboran tengkorak (kraniotomi) |
| Posisi Sensor | Di atas korteks motorik (dalam vena) | Langsung di permukaan otak |
| Durasi Prosedur | ~20 menit | Beberapa jam |
| Invasivitas | Minimal invasif | Invasif mayor |
| Risiko Utama | Stroke (jarang), komplikasi vena | Infeksi otak, perdarahan intrakranial |
| Jumlah Pasien (2025) | 10 orang (sejak 2019) | 7+ orang (sejak 2024) |
| Kekuatan Sinyal | Lebih lemah (lebih jauh dari otak) | Lebih kuat (langsung di otak) |
| Kontrol Kursor | Dalam pengembangan (uji coba) | Sudah berfungsi (Noland Arbaugh) |
| Integrasi Apple | Ya (pasien pertama) | Ya (melalui Switch Control) |
| Pendanaan | $385 juta valuasi | $1 miliar+ funding, $650M putaran Juni |
| Investor Terkenal | Bill Gates, Jeff Bezos | Elon Musk (pendiri) |
| Status FDA | Breakthrough Device Designation | Uji klinis manusia disetujui |
Tabel 1: Perbandingan komprehensif antara Synchron Stentrode dan Neuralink N1. Kedua pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing — Stentrode lebih aman secara prosedural sementara N1 memberikan sinyal yang lebih kuat dan kontrol yang lebih presisi.
Rodney Gorham: Rekor Dunia dan Kehidupan yang Direbut Kembali
Di balik semua angka valuasi, hak paten berlapis emas, dan diskusi tentang masa depan, ada satu cerita yang membuat semua teknologi ini terasa nyata dan penting secara mendalam: kisah Rodney Gorham dari Melbourne, Australia.
Dari Pelancong Dunia ke Pemegang Rekor BCI
Rodney Gorham tidak ragu-ragu untuk mendapatkan Stentrode pada tahun 2020. Kini ia telah memilikinya selama lebih dari 1.600 hari rekor dunia untuk perangkat otak yang sepenuhnya dapat diimplan. Dulu seorang pelancong dunia dan pekerja IT di IBM, kini ia berusia 65 tahun, hampir tidak bisa bergerak dan tidak bisa berbicara akibat ALS, kondisi neurodegeneratif yang secara bertahap melumpuhkan semua otot sukarela tubuh.
ALS Amyotrophic Lateral Sclerosis adalah kondisi di mana neuron motorik yang mengontrol gerakan otot secara bertahap mati. Tubuh perlahan-lahan menjadi penjara bagi pikiran yang tetap sepenuhnya sadar, aktif, dan utuh. Tidak ada obatnya. Tidak ada pengobatan yang secara signifikan memperlambat progresinya untuk sebagian besar pasien. Hanya manajemen gejala dan, kini, teknologi seperti Stentrode yang dapat memberikan kembali sebagian dari kemampuan berkomunikasi yang hilang.
“Tubuhnya memang melemah, tetapi otaknya tetap sama. Dia persis orang yang sama, hanya cangkangnya tidak berfungsi. Ada ribuan dan ribuan orang di seluruh dunia dalam situasi yang sama.”
— Caroline Gorham, Istri Rodney Gorham
Bagaimana Rodney Mengendalikan Dunia dengan Pikirannya
Rodney "mengetik" melalui kombinasi pelacak mata dan BCI-nya, yang terhubung via Bluetooth ke tablet Microsoft di ruang tamunya. Ia bisa mengirim teks, menulis email, menjelajahi YouTube dan seluruh internet, serta mengendalikan TV. Kursornya digerakkan oleh pelacak mata, dan ia "menekan tombol pilih" melalui BCI-nya dengan cara yang tidak terpikirkan sebelum era ini: dengan berpikir "gerakkan kakiku."
Synchron telah memprogram pola pikir itu seperti hotkey di komputer. "Gerakkan kakiku" kini berarti "pilih," pada dasarnya. Ini adalah contoh sempurna dari bagaimana BCI bekerja: bukan dengan membaca pikiran dalam arti kata yang harfiah, melainkan dengan menangkap pola sinyal listrik yang konsisten dan memetakannya ke tindakan tertentu. Otak manusia luar biasa plastis mampu belajar pemetaan baru dan mengeksekusinya dengan keandalan yang meningkat seiring waktu.
Selama sesi demonstrasi dalam kunjungan PCMag, Rodney menggunakan BCI-nya untuk menyampaikan "halo" via WhatsApp. Untuk jurnalis yang sudah bertahun-tahun meliput teknologi, ini adalah salah satu hal paling futuristis yang pernah mereka alami. Bagi Rodney, ini adalah kebebasan meskipun kebebasan yang terbatas dan terus berkembang.
Detail Kehidupan yang Dikembalikan
Salah satu detail yang paling menggerakkan dalam kunjungan PCMag adalah cerita tentang lampu. Caroline Gorham menjelaskan bahwa ia harus menghentikan Rodney dari kemampuan mengendalikan lampu karena ia suka menyalamatikan lampu untuk mendapat perhatiannya respons yang disambut dengan senyum menggoda dari Rodney di sebelahnya.
"Dia masih bisa mengekspresikan kepribadiannya," kata Caroline. "Dia bisa menjadi Rodney." Kalimat ini merangkum dengan sempurna apa yang sesungguhnya ditawarkan oleh BCI kepada pasien seperti Rodney: bukan sekadar kemampuan fungsional untuk mengirim email atau menjelajahi internet, melainkan restorasi identitas kemampuan untuk menjadi diri sendiri yang ekspresif, nakal, dan bersemangat di balik tubuh yang tidak lagi merespons kehendak.
![]()
Gambar 3: Rodney Gorham menggunakan Stentrode-nya untuk mengoperasikan tablet Microsoft via Bluetooth. Melalui kombinasi pelacak mata dan pikiran yang dipetakan oleh BCI, Rodney dapat mengirim pesan, menjelajahi internet, dan bahkan menyalakan lampu untuk menarik perhatian istrinya. Ia telah menggunakan Stentrode lebih dari 1.600 hari, menjadikannya pemegang rekor dunia untuk perangkat otak yang sepenuhnya dapat diimplan. (Kredit: Synchron)
📊 Konteks Klinis: ALS mempengaruhi sekitar 30.000 orang di Amerika Serikat dan ratusan ribu di seluruh dunia setiap saat. Bersama dengan kondisi seperti cedera tulang belakang, stroke, dan sklerosis lateral primer, populasi yang berpotensi mendapat manfaat dari BCI seperti Stentrode diperkirakan mencapai jutaan orang secara global.
Noland Arbaugh dan Neuralink: Perspektif dari Sisi Lain
Untuk memahami lanskap BCI secara komprehensif, penting untuk mendengar juga dari pasien Neuralink — karena perbandingan langsung antara pengalaman pengguna kedua sistem memberikan gambaran yang lebih jelas tentang di mana masing-masing teknologi saat ini berdiri.
Noland Arbaugh: Pasien Pertama Neuralink
Noland Arbaugh, seorang paraplegik dari Yuma, Arizona, adalah pasien manusia pertama Neuralink. Keunggulan teknis utama yang diberikan N1 kepada Arbaugh dibandingkan apa yang saat ini tersedia untuk Gorham adalah kontrol kursor langsung melalui pikiran, tanpa ketergantungan pada pelacak mata. Arbaugh menggambarkannya: "Saya secara harfiah hanya berpikir, 'Saya ingin kursor bergerak ke bagian keyboard ini dan memilih tombol itu.'"
Kemampuan kontrol kursor berbasis pikiran ini bukan pelacak mata memungkinkan Arbaugh untuk menggunakan implannya dalam durasi yang lebih lama tanpa kelelahan. Pelacakan mata yang terus-menerus sangat melelahkan bagi otot mata; menghilangkan ketergantungan ini adalah peningkatan kualitas hidup yang signifikan untuk sesi penggunaan yang panjang.
“Saya menggunakannya untuk banyak email, pengeditan situs web, menulis, meneliti, perbankan, pekerjaan rumah tangga — hanya menjadi orang dewasa yang mencoba mencari cara untuk menjalani kehidupan.”
— Noland Arbaugh, Pasien Pertama Neuralink
Keterbatasan yang Diakui
Namun Arbaugh juga mengakui bahwa teknologinya belum sempurna: "Kontrol kursor berada di 90% dari tempat yang saya inginkan." Ini adalah pengakuan penting bahkan sistem yang lebih invasif dengan sinyal yang lebih kuat dari Neuralink belum mencapai kontrol yang sempurna dan mulus. Sisa 10% itu gerakan yang tidak disengaja, kesalahan seleksi, keterlambatan respons masih merupakan hambatan nyata dalam pengalaman sehari-hari.
Synchron sedang mengerjakan tantangan yang sama untuk Rodney. Para peneliti Synchron memberikan latihan kepada Rodney untuk menguji kontrol kursor melalui implan. Mereka memintanya untuk memikirkan "gerakkan tangan kiri ke kiri" dan "gerakkan tangan kanan ke kanan," dan kemudian kursor bergerak ke arah yang sesuai. "Seperti keterampilan fisik apa pun, Anda harus mengulanginya," kata Caroline. Teknologinya berkembang, tetapi belum sempurna.
Ini mengungkapkan tantangan mendasar yang dihadapi semua pengembang BCI: proses dekodean sinyal otak ke tindakan yang bermakna adalah iteratif dan memerlukan pelatihan yang signifikan, baik oleh algoritma maupun oleh pasien. Otak manusia luar biasa adaptif, tetapi adaptasi memerlukan waktu dan latihan yang konsisten.
Visi CEO Tom Oxley: Implan Otak untuk Semua pada 2040-an
Tom Oxley, CEO Synchron yang berusia 44 tahun, adalah tokoh yang menarik: seorang dokter-ilmuwan dengan latar belakang bedah saraf yang berbicara dengan kemudahan yang sama tentang referensi medis teknis dan tangent filosofis yang lebih imajinatif. Ia adalah seseorang yang telah memikirkan masalah-masalah ini secara mendalam selama bertahun-tahun, dan pemikirannya tentang masa depan BCI sangat terperinci dan berjangka panjang.
Peta Jalan Menuju Adopsi Massal
Oxley telah menetapkan peta jalan yang ambisius namun terperinci untuk Stentrode. Pada tahun 2028, ia memperkirakan Stentrode akan menerima persetujuan pra-pasar (pre-market approval) lisensi untuk mulai mengiklankan dan menjual perangkat dari FDA. Ini adalah tonggak regulasi yang signifikan yang akan memungkinkan Synchron untuk mulai memasarkan teknologinya kepada institusi medis dan pasien.
Pada tahun 2040-an, Oxley memperkirakan Stentrode akan tersedia untuk semua orang bukan hanya pasien dengan disabilitas berat selama mereka memiliki $40.000 hingga $50.000 yang tersedia. Dalam skenario ini, asuransi tidak akan menanggung teknologi ini karena akan bersifat elektif, bukan medis yang diperlukan. Ini menempatkan BCI dalam kategori yang serupa dengan operasi estetik kelas atas atau mobil mewah: sesuatu yang hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki sumber daya finansial yang signifikan, setidaknya pada tahap awal adopsi.
“"Pasar massal bukan yang sedang kami bangun saat ini. Tetapi jika aman, tidak terlalu mahal, bisa dilepas, tidak mengubah bentuk tubuh Anda, dan membuat Anda mengendalikan teknologi lebih baik dari yang bisa dilakukan tubuh Anda, saya pikir akan mulai ada pengguna awal. Saya tahu terdengar aneh."”
— Tom Oxley, CEO Synchron
Latar Belakang yang Membentuk Visi
Perjalanan Oxley menuju BCI dimulai jauh sebelum ia mendirikan Synchron. Tumbuh besar di Canberra, Australia, ia secara intelektual tertarik pada pertanyaan-pertanyaan neurologis, sebagian besar karena begitu banyak yang tetap tidak terjawab. "Saya menjadi sangat terobsesi secara romantis dengan otak," katanya. Setelah sekolah menengah, ia berkeliling dunia, dan sepanjang jalan mengirim "ratusan email dingin" kepada profesor dan pakar tentang "ide yang berputar-putar" dalam pikirannya mengenai implan otak.
Suatu malam, ketika tinggal di "hostel ransel berjamur" di New York, Oxley menerima balasan email dari Geoffrey Ling, seorang neurolog dan kolonel di Angkatan Darat AS yang bekerja dengan Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA). Akhirnya, seseorang tertarik dengan idenya. Ling mengundang Oxley, yang saat itu berusia 29 tahun, ke Walter Reed pada tahun 2010. Setelah sekolah kedokteran, Oxley berpraktik di Mount Sinai di New York dan meneliti intervensi neurologis, yang akhirnya membawanya untuk mendirikan Synchron pada tahun 2012.
![]()
Gambar 4: CEO Synchron Tom Oxley di kantor sudutnya di Brooklyn, dikelilingi rak buku, catatan tulisan tangan di easel, dan lukisan bergaya Basquiat di atas mejanya. Oxley, mantan dokter bedah saraf, memiliki kombinasi langka antara kedalaman medis dan imajinasi visioner yang diperlukan untuk membangun perusahaan di salah satu bidang teknologi yang paling menantang. (Kredit: Joseph Maldonado / PCMag)
Risiko yang Harus Diakui
Meskipun pendekatan "dalam vena" Synchron lebih aman dari pengeboran tengkorak, ada risiko yang harus diakui secara jujur. Dr. Bradley Greger, profesor asosiasi di Arizona State University School of Biological and Health Systems Engineering, mengingatkan: "Masuk ke pembuluh darah tidak berarti tidak ada masalah. Pembuluh darah memasok darah ke otak, dan jika itu terganggu, itulah yang kita sebut stroke. Sekarang, ini jarang dan tidak mungkin, tetapi memang terjadi."
Dan ada satu detail lagi yang penting: sementara memasang perangkat Synchron hanya memerlukan prosedur 20 menit, perangkat ini tidak dirancang untuk dikeluarkan. Mendapatkan Stentrode adalah tindakan iman. Ini bukan keputusan yang dapat diambil kembali dengan mudah, dan itu adalah pertimbangan yang harus ada di garis terdepan dari setiap diskusi tentang perluasan BCI ke populasi yang lebih luas.
⚠️ Catatan Penting: Stentrode, meskipun lebih minimal invasif dari implan BCI konvensional, membawa risiko nyata termasuk kemungkinan stroke. Perangkat ini tidak dirancang untuk dikeluarkan setelah dipasang. Keputusan untuk mendapatkan implan otak harus dibuat dengan konsultasi menyeluruh dengan tim medis yang berkualifikasi.
Apple, Nvidia, dan Raksasa Teknologi dalam Ekosistem BCI
Salah satu perkembangan paling signifikan dalam ekosistem BCI belakangan ini adalah keterlibatan dua perusahaan teknologi terbesar di dunia: Apple dan Nvidia. Keterlibatan ini bukan sekadar dukungan finansial atau rasa ingin tahu — ini adalah langkah strategis yang secara fundamental mengubah lanskap adopsi BCI.
Apple: Standar Koneksi Universal untuk BCI
Tahun ini, Apple memungkinkan kontrol perangkat-perangkatnya melalui BCI, menghubungkannya langsung ke iPhone, iPad, dan Mac via Bluetooth. Synchron akan menjadi yang pertama menawarkan kemampuan ini kepada pasien, meskipun Apple merancangnya untuk bekerja dengan semua implan otak bukan eksklusif untuk Stentrode.
Yang penting adalah bagaimana Apple melakukan ini. Perusahaan membangun di atas fitur aksesibilitas yang sudah ada yang disebut Switch Control, yang memungkinkan orang-orang dengan disabilitas untuk mengoperasikan perangkat Apple dengan joystick eksternal atau hardware yang lebih nyaman bagi mereka. Apple memperluas standar ini untuk mencakup BCI, sehingga ketika Anda menghubungkan implan otak, perangkat Apple langsung mengenalinya dan masuk ke "mode kontrol otak."
“"Sekarang ketika Anda menghubungkan, [perangkat] langsung mengenali profil itu dan beralih ke mode kontrol otak. Seperti, 'Saya tahu itu otak.'"”
— Tom Oxley, CEO Synchron
Oxley mengklarifikasi bahwa Apple tidak memiliki ambisi untuk membuat BCI sendiri dan tidak sedang mengerjakan adopsi massal teknologi ini. Tujuan Apple adalah membantu orang-orang dengan disabilitas yang mengubah hidup — ini adalah perluasan dari misi aksesibilitas yang sudah lama menjadi bagian dari DNA produk Apple, bukan pivot ke bisnis perangkat medis.
Nvidia: Melatih AI dengan Gelombang Otak
Sementara itu, Synchron menyediakan data yang dipanen dari implan-implannya untuk melihat apakah Nvidia dapat melatih model bahasa besar pada "gelombang otak yang didigitalkan," seperti yang diungkapkan CEO Nvidia Jensen Huang dalam pidatonya di konferensi GTC AI 2024 perusahaan tersebut.
Implikasi dari inisiatif ini sangat mendalam. Jika model AI berhasil dilatih untuk memahami dan menginterpretasi sinyal otak manusia secara lebih akurat dan dengan keandalan yang lebih tinggi, ini bisa secara dramatis mempercepat kurva pembelajaran bagi pasien BCI baru dan meningkatkan presisi kontrol untuk semua pengguna. AI yang lebih baik dalam mendekode sinyal otak berarti BCI yang lebih baik, yang berarti lebih banyak kemampuan bagi pasien seperti Rodney Gorham.
Namun ada sisi lain yang lebih gelap dari keterlibatan korporasi ini. Jika memberikan akses korporasi besar ke otak Anda melalui implan menimbulkan kekhawatiran, Anda tidak sendirian dan Oxley sendiri mengakuinya sebagai kekhawatiran yang sah. "Ada kekhawatiran yang sah bahwa perusahaan jahat bisa menggunakannya untuk merugikan," katanya.
![]()
Gambar 5: COO Synchron Kurt Haggstrom mendemonstrasikan proses penyisipan Stentrode pada replika. Prosedur aktual berlangsung sekitar 20 menit dan menyerupai pemasangan stent kardiovaskular daripada bedah otak mayor. Meskipun lebih aman, prosedur ini tidak dapat dibalik — perangkat tidak dirancang untuk dilepas setelah dipasang. (Kredit: Joseph Maldonado / PCMag)
Data Otak: Privasi Paling Intim yang Pernah Ada
Mungkin tidak ada masalah privasi yang lebih besar daripada menyerahkan data otak Anda — yang berpotensi berisi semua pikiran dan keinginan Anda — kepada sebuah korporasi. Namun masa depan bidang ini bergantung pada kesediaan kita untuk melakukan itu dan kemampuan perusahaan implan untuk memahami sinyal listrik otak kita.
Apa Sebenarnya Data Otak Itu?
Data otak adalah satu sup besar kombinasi tak terbatas yang perlu didekode, tidak seperti keyboard dan mouse yang memiliki set input tetap. Proses ini adalah "seni," seperti yang digambarkan Haggstrom — dan tantangan ilmu data yang berat. Ini seperti menciptakan bahasa bersama yang baru antara pikiran pengguna implan, implan itu sendiri, dan perangkat Apple.
Forlini memutuskan ia harus melihat sendiri seperti apa data otak itu. Ia meminta Synchron dengan berbagai cara untuk melihat data tersebut, tanpa berhasil — lalu menyadari bahwa permintaannya seperti meminta kode brankas mereka. Ini adalah rahasia dagang paling berharga mereka, dan di luar perusahaan, hanya untuk mata FDA.
Untuk menjelaskan konsep dasarnya, Dr. Greger dari ASU mengarahkan Forlini ke sebuah studi dengan contoh bagaimana peneliti BCI menginterpretasi gelombang otak. Mereka duduk bersama pasien dan memintanya untuk mengulang kata "ya" berulang kali. Ada pola yang konsisten, dengan sinyal naik dan turun. Kemudian, para peneliti mengatakan "kerja bagus." Sinyal listrik terlihat berbeda ketika pasien mendengar afirmasi positif itu. Seiring waktu, para peneliti mampu memetakan sinyal-sinyal otak ini ke kata-kata dan tindakan, tetapi kemajuannya bisa lambat.
Tiga Ancaman yang Diidentifikasi Oxley
Oxley sadar sepenuhnya tentang risiko sosial dari teknologi yang ia kembangkan. Seperti episode Black Mirror yang nyata, ia mengidentifikasi tiga hal yang berpotensi bermasalah dengan teknologi BCI jika regulasi dan norma sosial tidak berkembang bersama teknologinya:
- Otonomi: Siapa yang benar-benar mengendalikan pikiran dan tindakan seseorang jika algoritma memiliki akses ke otak pada tingkat bawah sadar? Jika BCI dapat mengantisipasi dan bertindak berdasarkan keinginan bahkan sebelum pikiran sadar terbentuk sepenuhnya, batas antara kehendak bebas dan manipulasi menjadi kabur.
- Privasi: Data otak adalah bentuk data pribadi yang paling intim yang dapat dibayangkan. Jika perusahaan memiliki akses ke pola pikiran, preferensi, reaksi emosional, dan asosiasi bawah sadar pengguna, ini melampaui segala yang telah kita hadapi dalam debat privasi data sebelumnya.
- Diskriminasi: Akses ke data otak yang terperinci bisa membuka bentuk diskriminasi baru yang belum pernah ada sebelumnya berdasarkan pola pikiran, kecenderungan psikologis, atau predisposisi neurobiologis yang terdeteksi oleh sistem BCI.
“"Saya memikirkan otonomi, privasi, dan diskriminasi, yang merupakan tiga hal yang menurut saya bisa bermasalah dengan teknologi ini. Ini bukan masalah hari ini, tetapi cara kita membicarakannya di periode awal ini sangatlah penting."”
— Tom Oxley, CEO Synchron
Perlunya "Kill Switch"
Untuk mengatasi kekhawatiran-kekhawatiran ini, Oxley berpendapat bahwa jika BCI akan menjadi pasar massal, pengguna memerlukan "kill switch" — cara yang dapat diandalkan untuk memutus sambungan atau menonaktifkan implan sesuai keinginan mereka. Semua persyaratan dan regulasi ini kemungkinan akan berasal dari FDA, yang perannya sebagai gatekeeper akan menjadi sangat penting.
Namun ada komplikasi di sini juga: kepercayaan publik terhadap FDA saat ini tidak cukup tinggi untuk mendukung adopsi massal BCI. Survei 2022 menemukan bahwa hanya 27% responden yang mempercayai FDA "sangat banyak," dan 23% tidak mempercayai FDA "sangat banyak" atau "sama sekali." Menurut survei 2024, badan tersebut masih bekerja untuk membangun kembali kepercayaan setelah pandemi COVID-19. Ekosistem regulasi dan kepercayaan publik yang diperlukan untuk BCI massal jauh dari siap.
Masa Depan BCI: Multitasking, Burrito, dan Desain 3D
Meskipun skenario langsung BCI adalah perangkat bantuan untuk orang dengan disabilitas berat, daya tarik teknologi ini dalam jangka panjang jauh melampaui aplikasi medis. Haggstrom dan Oxley sama-sama membayangkan masa depan di mana BCI secara fundamental mengubah cara manusia berinteraksi dengan komputer dan dunia digital.
Multitasking Tingkat Lanjut
Bayangkan mengetik di keyboard sambil menggerakkan kursor dengan pikiran Anda secara bersamaan. Atau memerintahkan komputer untuk memperbaiki ejaan kata terakhir sambil terus mengetik kata-kata berikutnya tanpa harus kembali. Beberapa tindakan dapat terjadi secara bersamaan, hanya dibatasi oleh berapa banyak pikiran yang dapat dipahami dan dikonversi menjadi tindakan oleh hardware. Ini adalah visi multitasking yang tidak memerlukan antarmuka fisik tambahan — otak secara langsung berkomunikasi dengan komputer secara paralel.
Konteks-Sadar hingga Tingkat yang Belum Pernah Ada
Haggstrom memberikan contoh hipotetis yang lebih menarik: bayangkan Anda baru saja pulang setelah pesta malam. Ketika Anda mulai berpikir "Saya lapar," apakah mungkin implan bisa mendeteksi kadar alkohol darah Anda dan secara otomatis memesan burrito untuk Anda? Ya, katanya — dan jika Anda memiliki visi ke depan untuk memasukkan daftar makanan pasca-pesta, aplikasi pengiriman Anda akan tahu jenis burrito apa yang harus dipesan begitu implan memberikan izinnya.
Ini bukan sekadar otomasi — ini adalah sistem yang mengantisipasi kebutuhan berdasarkan konteks biologis dan situasional yang gabungannya tidak dapat ditangkap oleh sensor apa pun selain implan otak. Potensi untuk layanan yang benar-benar personal dan konteks-sadar adalah luar biasa, meskipun implikasi privasi dari sistem semacam itu juga demikian.
Desain Antarmuka yang Belum Pernah Ada
Dari perspektif pengembang perangkat lunak, BCI membuka pertanyaan desain yang belum pernah dipikirkan sebelumnya. "Bagaimana Anda mengubah lingkungan 2D menjadi 3D?" tanya Haggstrom. "Bagaimana Anda merancang secara berbeda jika seseorang menggunakan BCI?" Antarmuka yang dirancang untuk keyboard dan mouse — yang pada dasarnya adalah antarmuka 2D dengan input sekuensial — mungkin sama sekali tidak sesuai untuk BCI yang memungkinkan input paralel dan multi-modal.
Haggstrom membandingkan ini dengan "pergi ke suatu tempat yang belum pernah didatangi siapa pun, seperti luar angkasa atau laut dalam." Ini bukan hiperbola kosong — desain antarmuka untuk BCI benar-benar adalah wilayah yang belum dipetakan, dan solusi-solusi yang akan muncul belum bisa sepenuhnya dibayangkan dari perspektif hari ini.
Kacamata pintar mungkin menjadi tahap perantara penting. Meta, Google, dan kemungkinan Apple mengembangkan kacamata dengan asisten AI tertanam yang dapat mengambil tindakan tanpa memerlukan kita meletakkan tangan di layar atau mouse. Apakah mungkin untuk memindahkan antarmuka tersebut dari wajah ke otak dalam jangka panjang? Oxley mengakui bahwa ini mungkin terlalu banyak kekuatan untuk perusahaan teknologi, meskipun ia mengharapkan "pasar bebas" akan mengoreksi hal ini.
Skeptisisme Akademis: Ketika Hype Bertemu dengan Ilmu
Tidak semua orang dalam komunitas ilmiah berbagi optimisme Oxley tentang garis waktu adopsi massal BCI. Untuk gambaran yang seimbang, penting untuk mendengar perspektif akademis yang lebih skeptis.
Tantangan Teknis yang Belum Terpecahkan
Dr. Bradley Greger dari ASU menyuarakan kehati-hatian yang signifikan. "Semua orang membesar-besarkan," katanya. "Mereka semua mencoba menjadikannya bisnis komersial. Saya mencintai teknologi ini, tetapi beberapa perusahaan mencoba mempromosikan diri mereka, seperti yang seharusnya, dan mereka agak mengaburkan risiko yang terlibat." Greger secara khusus mempertanyakan apakah orang akan menerima risiko dengan konsekuensi yang berpotensi serius demi manfaat dapat berinteraksi dengan perangkat realitas virtual Apple.
Tantangan mendasar yang diidentifikasi Greger adalah lambatnya kemajuan dalam dekodean sinyal otak. Otak manusia menghasilkan data yang luar biasa kompleks — seperti yang ia katakan, "satu sup besar kombinasi tak terbatas" — dan memetakan kompleksitas itu secara andal ke tindakan yang dapat diprediksi adalah masalah yang belum terpecahkan. Bahkan dengan kemajuan AI yang signifikan, penerjemahan dari sinyal listrik mentah ke niat yang bermakna memerlukan dataset yang besar, pelatihan yang ekstensif, dan validasi klinis yang ketat.
Perspektif dari Duke University
Dr. Gregory B. Gogan dari Duke University menawarkan penilaian yang lebih bernuansa: "Sangat mungkin bahwa jenis BCI yang kurang invasif akan lebih tersedia untuk lebih banyak orang," katanya, "tetapi saya masih pikir kita masih jauh dari sana." Ini adalah penilaian yang mengakui potensi teknologi tanpa menggembar-gemborkan garis waktu yang mungkin tidak realistis.
AI dapat membantu mempercepat proses tersebut dengan mengenali pola dan menambahkan elemen prediktif. Misalnya, jika pengguna melihat Roomba saat duduk di ruangan berdebu, pesan mungkin muncul di tablet menanyakan apakah mereka ingin menyalakan penyedot debu dari jarak jauh. Mereka akan berpikir "ya" atau "tidak" untuk merespons secara diam-diam. Oxley menekankan pentingnya kontrol pengguna dalam skenario ini: "BCI membuat prediksi tentang apa yang ingin Anda lakukan dan bagaimana melibatkan sistem-sistem tersebut, dengan asumsi Anda menginginkannya. Anda akan merepresentasikan kehendak Anda melalui BCI. Ini akan menawarkan apa yang ingin Anda lakukan, dan kemudian Anda harus menyetujuinya. Itu penting."
Refleksi Akhir: Kembali ke Subway dengan Perspektif Baru
Setelah kunjungan selesai, Forlini dan koleganya mengucapkan selamat tinggal kepada Murphy si golden retriever dan melangkah keluar ke Brooklyn yang tetap tidak peduli dengan semua pertanyaan besar yang baru saja dibahas di dalam gedung itu.
Di perjalanan naik subway kembali, mereka mengamati sesama penumpang dengan mata baru. Semua orang menatap, leher membungkuk, ke ponsel masing-masing — tidak menyadari bahwa suatu hari mereka mungkin akan menukar layar-layar itu dengan perangkat yang dapat diimplan. Dan siapa yang tahu, mungkin mereka bahkan akan menyukainya.
"Lihat semua data pikiran ini," kata kolega Forlini, mengamati subway penuh dengan penumpang yang tenggelam dalam dunia digital mereka. Komentar itu menangkap sesuatu yang esensial tentang tantangan dan potensi BCI: kita sudah begitu terkoneksi secara digital, sudah begitu banyak memberikan diri kita kepada perangkat dan platform, sehingga pertanyaannya bukan apakah koneksi antara otak dan mesin akan semakin dalam, melainkan bagaimana, kapan, dan dengan persyaratan apa.
"Jika aman, tidak terlalu mahal, bisa dilepas, tidak mengubah bentuk tubuh Anda, dan membuat Anda mengendalikan teknologi lebih baik dari yang bisa dilakukan tubuh Anda, saya pikir akan mulai ada pengguna awal." — Tom Oxley, CEO Synchron
Pertanyaan yang Forlini tinggalkan dari kantornya adalah pertanyaan yang jawabannya akan membentuk beberapa dekade ke depan dari antarmuka manusia-mesin: Ketika teknologi cukup aman, cukup terjangkau, dan cukup berguna, berapa banyak dari kita yang akan memilih untuk membawa batas digital itu satu langkah lebih jauh — bukan di genggaman, bukan di pergelangan, tetapi di dalam otak kita sendiri?
Dan siapa — individu, perusahaan, atau regulator — yang akan memutuskan syarat-syaratnya?
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apa itu Stentrode?
Stentrode adalah implan otak minimal invasif yang dikembangkan oleh Synchron. Alat ini dimasukkan melalui vena di atas korteks motorik untuk membaca sinyal listrik otak, memungkinkan penggunanya mengendalikan komputer dan perangkat lain hanya dengan pikiran, tanpa operasi pengeboran tengkorak.
2. Bagaimana cara kerja Stentrode?
Stentrode berupa jaring logam yang mengembang di dalam vena dekat otak. Sinyal otak ditangkap, dikirim melalui kabel ke paket elektronik dekat tulang selangka, lalu diteruskan secara nirkabel via Bluetooth ke perangkat eksternal.
3. Apa perbedaan Stentrode dengan Neuralink?
-
Stentrode: Minimal invasif, prosedur ~20 menit, melalui vena, risiko stroke kecil, jumlah pasien saat ini ~10.
-
Neuralink N1: Operasi kraniotomi, prosedur beberapa jam, sensor di otak langsung, risiko infeksi/perdarahan, jumlah pasien lebih sedikit tetapi sinyal lebih kuat.
4. Siapa yang bisa mendapatkan Stentrode?
Saat ini ditujukan untuk pasien dengan disabilitas berat seperti ALS, cedera tulang belakang, dan kondisi neurologis serupa. Oxley merencanakan adopsi massal pada 2040-an bagi mereka yang mampu secara finansial.
5. Apakah Stentrode bisa dilepas?
Tidak. Perangkat ini tidak dirancang untuk dilepas setelah dipasang, sehingga keputusan pemasangan harus melalui konsultasi medis yang matang.
6. Siapa saja yang terlibat dengan ekosistem BCI Stentrode?
-
Apple: Integrasi dengan perangkat melalui Bluetooth dan Switch Control.
-
Nvidia: Meneliti penggunaan data otak untuk melatih AI.
-
Investor: Bill Gates, Jeff Bezos, pendanaan $385 juta.
7. Apa risiko utama penggunaan Stentrode?
Risiko utama adalah stroke (jarang) dan komplikasi pembuluh darah. Ada juga risiko sosial seperti privasi data otak, otonomi, dan potensi diskriminasi jika teknologi disalahgunakan.
8. Bagaimana kehidupan pasien Stentrode?
Contohnya Rodney Gorham (ALS) dapat mengirim pesan, menjelajah internet, dan mengendalikan perangkat melalui pikiran, memulihkan sebagian kemampuan berkomunikasi dan identitas diri.
9. Bagaimana masa depan BCI menurut Synchron?
-
Multitasking langsung dengan pikiran
-
Sistem konteks-sadar yang menyesuaikan perangkat otomatis
-
Antarmuka 3D untuk kontrol lebih imersif
-
Adopsi massal kemungkinan pada 2040-an bagi mereka yang mampu

Leave a Reply